![]() |
| Oleh : Herliana Tri M |
Dilansir detik.com, 04/10/2025 mengungkapkan tentang kondisi yang melingkupi generasi penerus saat ini. Opini yang berkembang dan menjadi tren akan berpengaruh pada cara pandang terhadap kehidupan dan masa depannya. Lying flat,
Istilah yang viral pada April 2021 setelah sebuah unggahan di forum online Tiongkok yang berjudul "Berbaring Datar Adalah Keadilan" menjadi populer.
"Lying flat" sebagai istilah dari gerakan sosial informal di Tiongkok yang artinya menolak tekanan sosial untuk selalu produktif, sukses, dan memilih menjalani hidup lebih minimalis dan santai. Gerakan ini muncul sebagai respons terhadap budaya kerja "996" (jam kerja dari 9 pagi sampai 9 malam, 6 hari seminggu). Kondisi ekonomi dengan biaya hidup tinggi, tetapi minim mobilitas sosial. Akhirnya menjadikan masyarakat yang menganut lying flat menurunkan idealisme hidupnya, memilih untuk tidak berjuang demi kesuksesan materi, seperti membeli rumah atau menikah, serta memprioritaskan kesejahteraan diri di atas ambisi karir.
Pergeseran Kriteria Kesuksesan
Dalam beberapa dekade ini, kerja keras dan pendidikan tinggi menjanjikan tiket menuju kemakmuran bagi kaum muda Asia. Namun anggapan demikian mulai memudar seiring perkembangan zaman dan tantangan yang melingkupi para generasi muda Asia yakni kesulitan mendapat pekerjaan. Faktanya berpendidikan tinggi dan lulus dari sekolah-sekolah terbaik tidak menjamin jalan menuju masa depan cerah.
Kisah ini mewakili apa yang juga terjadi. Cho Sang-hun, penduduk Seoul, Korea Selatan, berusia 25 tahun. Upayanya mengisi kolom-kolom lowongan pekerjaan yang tak berujung. Ketidakpastian mengaburkan pencarian kariernya, sebagaimana dialami jutaan anak muda di seluruh Asia.
Choi telah melalui berbagai tantangan. Lulus dari sekolah elit, melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler yang tak henti-hentinya, sampai serangkaian magang. Namun ia masih menyebut dirinya second-hand rookie atau pemula berpengalaman.
Kekecewaan Cho dirasakan oleh banyak anak muda di sebagian Asia, di mana kelelahan yang meningkat memaksa mereka untuk melakukan perhitungan antar generasi. Kerja keras dan pendidikan tinggi menjamin kehidupan yang lebih baik dan telah kehilangan makna baginya.
Pengangguran kaum muda juga menjadi masalah di ekonomi terbesar di Indonesia. Data pemerintah mencatat, sekitar 16% dari sekitar 44 juta penduduk Indonesia dengan usia 15 hingga 24 tahun diperkirakan menganggur. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional.
Selain itu, keberadaan pekerjaan serabutan informal dan kontrak jangka pendek merupakan hal yang wajar terjadi. Sampai akhirnya keinginan untuk melarikan diri ke luar negeri menjadi timbangan pilihan mengingat susahnya mendapatkan pekerjaan dan hidup layak.
Ketidakadilan Dunia Kerja
Dunia Hiburan Lebih Menjanjikan. Fenomena yang ada saat ini, apresiasi terhadap dunia hiburan jauh lebih besar dibanding pekerjaan yang lain. Dunia hiburan menjanjikan kehidupan yang glamor, bergelimang harta dan kemudahan mengumpulkan pundi- pundi kekayaan. Berbanding terbalik dengan dunia kerja lainnya di mana masyarakat bekerja membanting tulang, di sektor pertanian, perdagangan dll dengan jam kerja sekitar 8 jam per hari atau lebih untuk mendapatkan sekedar gaji UMR atau dibawahnya.
Kondisi yang terus berlangsung akan memberikan pengaruh besar bagi perekonomian bangsa. Pada saat pemuda lebih fokus melatih talenta untuk mengisi dunia hiburan yang menjanjikan, ekonomi bangsa yang membutuhkan tenaga terampil dan terdidik akan mengalami penurunan
Apalagi ditengah pertumbuhan yang stagnan dan kesenjangan yang semakin melebar, maka keinginan untuk berpindah haluan kerja dari tenaga profesional menuju dunia hiburan akan menjadi pilihan.
Sementara, tumpuan Ekonomi pada sektor non riil. Sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan Indonesia saat ini tidak hanya bertumpu pada sektor riil, tetapi juga ekonomi non-riil. Perkembangan sektor non-riil merupakan perluasan fungsi uang yang tadinya hanya sebagai alat tukar menjadi komoditas yang diperdagangkan. Sektor non-riil ini dikembangkan oleh untuk melakukan investasi secara tidak langsung, yaitu melalui pasar modal dengan membeli saham-saham yang ada di pasar modal. Faktanya, nilai ekonomi non-riil seperti transaksi di bursa saham melebihi nilai transaksi barang dan jasa. Transaksi di lantai bursa dunia nilainya bisa mencapai 700 triliun dolar AS dalam satu tahun. Padahal hanya sekitar 7 triliun dolar AS saja nilai arus barang dan jasa diperdagangkan atau hanya seperseratusnya. Inilah yang sering menjadi sumber krisis dan ketimpangan ekonomi.
Sedangkan dalam sistem ekonomi Islam, pengembangan bisnis hanya bertumpu pada sektor riil. Pemerintah maupun swasta tidak boleh mengembangkan sektor non-rill. Pengembangan ekonomi dan bisnis dalam sistem ekonomi Islam bertumpu pada pengembangan industri pertanian, perdagangan barang dan jasa (baik perdagangan dalam negeri maupun luar negeri), pengembangan industri non-pertanian, ataupun kerjasama bisnis dalam bentuk berbagai kerjasama usaha dengan memfasilitasi para pemilik modal yang tidak memilik skill bisnis dengan para pengusaha yang membutuhkan modalnya untuk pengembangan usaha.
Tumpuan ekonomi pada perkembangan sektor riil saja, menjadi salah satu solusi bagi permasalahan ketenagakerjaan setiap wilayah negera saat ini. Keuangan akan akan terserap semua dalam aktivitas riil di masyarakat sehingga perputaran barang dan jasa akan membawa dampak signifikan pada penyerapan tenaga kerja secara optimal.
Kecukupan lapangan pekerjaan yang tersedia akan mampu menyelesaikan permasalahan Lying flat yang melanda warganya. Penghargaan yang setimpal antara manfaat kerja serta upah yang diberikan menjadikan motivasi bekerja tidak menurun. Inilah sebagian dari solusi dari permasalahan ketenagakerjaan saat ini. Solusi yang Islam hadirkan untuk memecahkan persoalan yang ada.
Sistem ekonomi Islam adalah satu-satunya pilihan untuk menata ekonomi bangsa ini. Sistem ekonomi dari Allah inilah yang akan mewujudkan ekonomi tumbuh, stabil dan bebas krisis serta berkeadilan.
