![]() |
| Oleh: Amel (Ibu Rumah Tangga) |
Kementerian Sekretariat Negara RI mengabarkan bahwa Presiden RI Prabowo Subiyanto menjadi salah satu pemimpin negara yang menandatangani Board of Peace (BoP) pada tanggal 22/1/2026 di Dapos Swiss. BoP merupakan badan Internasional yang mengawal proses transisi stabilisasi, dan rokunstruksi Gaza paska konflik. BoP diarahkan untuk memulihkan tata kelola sipil dan menjamin transisi menuju perdamaian berkelanjutan diwilayah tersebut (setneg.go.id, 11/2/2026). Menurut Mensetneg, bagi Indonesia partisipasi dalam BoP ini memiliki makna strategis dalam menjaga proses transisi Gaza agar tetap mengarah pada solusi dua negara tanpa mengabaikan hak-hak Palestina. Hal ini menegaskan kepemimpinan Indonesia di tingkat global sebagai Negara yang konsisten memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan.
Tetapi ada hal yang harus dicermati dari BoP tersebut. BoP dibentuk oleh Amerika Serikat (AS) yang selama ini melakukan banyak intervensi militer, sanksi ekonomi sepihak hingga rekayasa pergantian rezim di berbagai negara, tanpa memperdulikan hukum internasional. Semua ini menyingkap wajah buruk AS yang lebih berorientasi pada kepentingan hegemoni AS daripada perlindungan nilai-nilai universal. Demokrasi dan HAM kerap disalahgunakan menjadi instrumen legitimasi untuk membenarkan agresi AS atas negara lain. Tidak peduli jika untuk itu AS mengorbankan ratusan ribu rakyat sipil.
Banyak pengamat menyebutkan sebagai imperial arrogance, yakni kecongkakan kekuasaan yang lahir dari posisi dominan AS dalam sistem internasional pasca-Perang Dunia kedua. Contoh imperial arrogance AS terjadi pada negara Vietnam, Irak, Afganistan, dan Libya. Yang terbaru, AS menculik pemimpin Venezuela dan mengancam Iran secara semena-mena. Hal ini menunjukkan AS mengabaikan kedaulatan dan kesetaraan antar negara.
Dalam pandangan Islam, apa yang dilakukan oleh AS merupakan sebuah kezaliman yaitu bentuk penyimpangan dari kebenaran dan keadilan yang telah Allah tetapkan. Allah SWT secara tegas mengecam dan melarang segala bentuk kezaliman baik secara personal maupun negara. Seperti yang tercantum dalam Al-Quran surat Ghafir ayat 31 yang artinya : Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.
Allah pun memperingatkan bagi pelaku kezaliman, dalam Al Qur'an surat Hud ayat 113, yang artinya: Janganlan kalian cenderung kepada para pelaku kezaliman yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong.
Karena itu jelas sekali, haram hukumnya mendukung atau membenarkan kezaliman AS. Termasuk kezaliman AS yang dibungkus dengan istilah Board of Peace (Dewan Perdamaian) dengan dalih demi masa depan Gaza. Sudah sangat jelas, kezaliman adalah kejahatan yang sangat dibenci Allah. Melalui BoP ini Trump berkuasa secara absolut alias mutlak dengan hak Veto sendirian. Negara Muslim yang ikut BoP sekadar jadi bebek dan antek Trump saja.
Bergabungnya negara-negara gArab dan Indonesia ini justru menunjukkan kelemahan mereka di hadapan Amerika dan mencari selamat demi kepentingannya sendiri. Mereka lupa terhadap larangan Allah SWT mendukung kedzaliman. Mereka mengkhianati amanah kepemimpinan yang disandangnya. Mereka lupa tugas mereka menolong saudara yang dizalimi selama 78 tahun. Mereka malah duduk bersama dengan Zionis Yahudi laknatullah dalam lembaga yang sama sekali tidak pernah bicara penjajahan dalam piagamnya.
Seharusnya negeri-negeri muslim berpegang teguh pada tuntunan dalam menghadapi kedzaliman, yaitu bertindak tegas dengan memerangi negara kufur yang berbuat dzalim kepada kaum muslim, seperti firman Allah dalam QS Al Baqarah ayat 191, Perangilah kaum kafir itu di mana pun kalian temui, dan usirlah mereka dari tempat mana saja mereka mengusirmu. Memerangi kaum kafir hanya bisa dilakukan bila kaum muslim bersatu di bawah komando seorang pemimpin negara yang menerapkan syariat Islam yakni Khalifah.
Umat Islam saat ini sangat memerlukan hadirnya seorang pemimpin muslim global yang akan mengurus dan melindungi mereka dari kedzaliman kaum kafir harbi. Sejarah telah membuktikan bahwa Khalifah adalah pelindung dan pemersatu kaum muslim sedunia.
Wallahu a'lam bi ash shawab.
