![]() |
| Oleh : Nurlina ( Praktisi Pendidikan ) |
Setiap tahun, pelatihan kader kesehatan digelar dengan penuh keriuhan, spanduk,undangan disebar disetiap wilayah.
Kegiatan berlangsung meriah tapi tanpa kegiatan yang berkelanjutan. Ini terbukti kasus stunting masih ada sampai saat ini.
Dilansir dari BERANDAPOSTCOM, - Otorita Ibu Kota ( IKN )Memperkuat upaya pencegahan stunting bagi calon ibu dan keluarga rentan.
Kegiatan yang dilakukan dengan cara pelatihan kader, pendampingan keluarga risiko stunting, serta pemberian makanan tinggi protein.
Pelatihan tersebut diadakan di Balai Desa Tengin Baru , Kecamatan Sepaku, Kamis ( 6/11/2025).
Program ini menjadi bagian dari komitmen Otorita IKN dalam membangun masyarakat Nusantara yang sehat, berdaya, dan siap menyongsong ibu kota politik tahun 2028.
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka sebagai peningkatan pengetahuan, perubahan, perilaku, dan perbaikan pola kumsumsi keluarga. Hal ini dilakukan untuk lebih dini mencegah stunting yang di mulai sejak sebelum kelahiran.
Lantas apakah ini hanya kesalahan secara tekhnis atau memang butuh sistem yang lain agar indonesia bebas dari stunting?
Hanya Seremonial
Di tengah meningkatnya kebutuhan organisasi akan kader yang kompeten, termasuk salah satu program dari Otorita IKN. Pelatihan ini justru sering menjadi rutinitas seremonial saja, pelatihan yang diselenggarakan hanya sebatas formalitas saja. Sehingga tujuan pembinaan kader tidak benar- benar terjadi.
Walaupun program ini sebenarnya bagus karena salah satu penyebab stunting adalah, kurang fahamnya orang tua atas pemberian makanan bergizi untuk tumbuh kembang anak.
Tetapi ada hal yang harus di perhatikan sebenarnya yaitu kondisi ekonomi keluarga. Hal tersebut harusnya menjadi perhatian pemerintah untuk menghilangkan kemiskinan
Alhasil, kondisi ekonomi yang serba sulit mendorong peningkatan stunting dan gizi buruk. Oleh karena itu kita sebenarnya tidak bisa berharap banyak pada program pelatihan kader sedangkan support sistemnya tidak mendukung. Selain itu, SDM masyarakat menyongsong IKN tidak hanya dilihat dari bebas stunting tapi juga keahlian, kepribadian dan keimanan.
Bukan hanya masalah pelatihan kader, sistem demokrasi kapitalisme berkontribusi terhadap tingginya angka stunting. Akses pangan tergantung pada kemampuan bayar, ketimpangan ekonomi yang melebar dan lapangan pekerjaan yang sulit. Sehingga pelatihan saja tidak cukup karena akar struktural penyebab stunting tidak disentuh. Disinilah dominasi sistem kapitalis.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pelatihan kader juga penting, tapi tidak akan efektif menekan angka stunting secara signifikan. Karena Stunting adalah produk sistem bukan sekedar kurangnya pengetahuan.
Sistem demokrasi kapitalisme meniscayakan kemiskinan terjadi karena negara lalai menjalankan fungsinya sebagai ra'in ( pengurus rakyat ). Ketika negara belum mampu menjamin kebutuhan dasar rakyatnya. Termasuk dalam hal ini akses gizi, sanitasi, layanan kesehatan, karena ciri negara demokrasi kapitalis bukan pro terhadap rakyat tapi bagaimana mendapatkan sisi manfaat dari setiap appun yang mereka lakukan.
Dan akhirnya ini hanya seremonial saja, ini bisa terlihat masih tingginya angka stunting walaupun pelatihan sudah dilaksanakan dimana- mana.
Butuh Sistem Yang Shohih
Dalam islam, suatu kegiatan apapun tidak hanya berhenti kepada acara formalitas saja, tanpa menghasilkan perubahan nyata karena tidak sesuai bagaimana prinsip amanah dan tanggung jawab dalam islam.
Sistem islam menempatkan seorang khalifah ( ra'in ) sebagai pemimpin penggembala umat yang mempunya kewajiban dan amanah yang di bebankan kepadanya bukan hanya sekedar amanah saja. Tapi kepada tanggung jawab bukan hanya didunia saja.
Rasulullah Saw bersabda :
"Pemimpin adalah penggembala umat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya " (
HR. Bukhari dan Muslim ).
Makna ra'in bukan hanya sekedar pemimpin tapi seseorang yang mampu mengatur urusan rakyat, penjamin kesejahteraan rakyat,pelindung dari bahaya dan sebagai penjamin terpenuhinya hak- hak rakyat. Termasuk dalam hal pemenuhan gizi rakyatnya.
Seorang khalifah akan memenuhi segala kebutuhan individu primer dan komunal masyarakat sehingga tidak akan ada stunting.
Islam punya mekanisme bagaimana menjadikan generasi yang sehat fisik rohaninya dengan support sistem yang lengkap. Sistem ini bekerja melalu tiga pilar yaitu, keluarga ,masyarakat dan negara.
Pertama , individu yang senantiasa terdidik dengan ketakwaan akan senantiasa menjaga kesehatan diri sebagai bentuk amanah , belajar ilmu kesehatan tentang gizi, dan mempersiapkan melahirkan generasi kuat dan tangguh.
Kedua, peran masyarakat yang memiliki peran strategis, sebagai lingkungan yang menjaga, membina dan membantu keluarga dalam melahirkan generasi sehat. Budaya amar ma'ruf nahi mungkar , serta lingkungan yang menjaga adab dan akhlak.
Ketiga, Negara ( khilafah ) sebagai support sistem yang utama memastikan generasi terlahir sehat lahir bathin. Seluruh kebijakan secara langsung diarahkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan menjaga kualitas generasi. Negara juga menyiapkan infrastruktur kesehatan yang memadai, kemudahan setiap kepala keluarga mendapatkan pekerjaan yang layak serta edukasi terkait gizi kepada masyarakat. Negara seharusnya menyediakan lapangan pekerjaan seluas- luasnya sehingga setiap indivudu mampu mendapatkan kehidupan yang layak.
Yang tidak kalah penting negara harus melakukan pengawasan dan kontrol secara berkala agar kebijakan negara seperti layanan kesehatan, akses pekerjaan,stabilitas harga pangan, sistem pendidikan serta penggunaan anggaran dapat berjalan sesuai amanah.
Bagaimana mekanisme islam dalam mengatasi masalah teruma yang berkaitan dengan stunting. Ha ini yang sangat erat kaitannya dengan sistem ekonomi yang harus diterapkan sebagai kewajiban negara. Pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, Pengelolaan kepemilikan umum untuk pembiayaan layanan publik dan distribusi kekayaan yang adil dan merata.
Support sistem islam akan membuat kekayaan negara berkorelasi dengan kesejahteraan warganya. Selain itu dalam peradaban islam dikenal khas dengan masyarakat islamnya beda dengan peradaban lain.
Demikianlah, sistem islam mampu memberikan solusi komprehensif bagi semua persoalan umat. Apa bila ini mampu diterapkan secara konsisten dalam tatanan kehidupan maka hambatan struktural yang menjadi penyebab stunting akan mampu diminimalkan.
Karena sistem islam bukan sekedar menawarkan pedoman moral saja, tapi seluruh tatanan kehidupan.
Wallahu a'lam bisowab
