![]() |
| Oleh : Tiktik Siti Mukarromah Pegiat Literasi |
Ketika kapal-kapal Global Sumud Flotilla berlayar membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza, mereka tidak hanya membawa obat dan makanan, tetapi juga membawa harapan. Harapan bagi jutaan jiwa yang terkepung di bawah blokade Israel, harapan bagi dunia yang masih percaya pada kemanusiaan. Namun, di tengah samudra, pasukan Zionis Israel kembali memperlihatkan wajah aslinya menyerbu kapal-kapal itu, menahan para aktivis, dan menyandera bantuan yang sejatinya ditujukan untuk rakyat yang menderita.
Dunia pun bergolak. Dari London hingga Paris, dari Roma hingga Brussel, ribuan orang turun ke jalan.. Bahkan, di dunia Arab, gelombang kesadaran ini bergema. Di Rabat, Maroko, Gen Z bangkit menuntut keadilan sosial, memperjuangkan hak rakyat, dan mengecam pembiaran terhadap penderitaan Palestina. Aksi mereka menandai babak baru yakni generasi muda Islam mulai menatap persoalan umat dengan kesadaran politik dan moral yang makin tajam.
Merekapun menyuarakan amarah, “Cukup sudah!”. Umat manusia mulai muak pada kesewenang-wenangan yang seolah tidak berujung menuntut keadilan sosial dan reformasi sistem publik yang rusak. Di saat bersamaan, di lautan Mediterania, puluhan kapal Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza diserang dan dicegat oleh pasukan Israel.
Kedua peristiwa ini seolah menjadi dua sisi dari satu koin yang sama menunjukkan krisis moral dan politik dunia modern yang terus berulang. Penindasan, ketimpangan, dan ketidakadilan yang dibiarkan menjadi arus global. (Kompas.com, 04/10/2025)
Apresiasi patut diberikan kepada generasi muda yang menunjukkan empati lintas batas terhadap penderitaan rakyat Palestina. Mereka memahami bahwa perjuangan Palestina bukan semata isu politik luar negeri, melainkan cermin dari rusaknya sistem global yang menormalisasi penjajahan dan ketimpangan sosial.
Namun, keberanian moral ini perlu dibimbing oleh arah ideologis yang jelas. Tanpa fondasi yang kokoh, semangat kemanusiaan dapat mudah digiring oleh narasi global yang semu, seperti “perdamaian dua negara” yang sejatinya hanya kosmetik dari penjajahan yang dilegalkan.
Saat Nurani Dunia Mulai Bicara
Ada yang istimewa dalam fenomena ini. Di tengah arus globalisasi yang cenderung menumpulkan empati, justru generasi muda yang memimpin barisan. Mereka lahir di era digital, hidup di dunia yang serba cepat, namun tetap mampu merasakan derita saudaranya di Gaza. Inilah tanda bahwa fitrah kemanusiaan tidak pernah benar-benar mati.
Namun, mari kita jujur. Berapa banyak lagi armada bantuan yang harus dicegat, berapa banyak lagi nyawa yang melayang sebelum dunia sadar bahwa persoalan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan? Ini bukan lagi soal “bantuan” atau “blokade,” tetapi soal penjajahan yang dilegalkan oleh tatanan dunia sekuler.
Israel tidak memahami bahasa perdamaian. Zionisme tumbuh dari akar ideologi kolonial yang hanya mengenal bahasa kekuasaan dan perang. Dalam logika Zionis, keamanan mereka hanya bisa dijamin dengan menghapus eksistensi rakyat Palestina. Maka, mengharap mereka tunduk pada nilai-nilai kemanusiaan adalah utopia.
Sistem dunia saat ini yang berporos pada kekuatan kapitalis Barat menjadi sponsor tak langsung bagi kezaliman tersebut. PBB, Amerika, dan sekutunya telah berulang kali membuktikan bahwa mereka tak akan menegakkan keadilan sejati bagi umat Islam. Palestina menjadi cermin dari kegagalan dunia modern menjaga nilai kemanusiaan universal.
Pandangan Islam Dalam Menyingkap Akar Masalah
Islam memandang bahwa krisis Palestina bukan hanya konflik politik, tapi konsekuensi dari ketiadaan otoritas Islam global yang mampu melindungi darah dan kehormatan kaum Muslimin. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai, di mana orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketika perisai itu tiada, umat ini menjadi sasaran empuk kezaliman. Inilah sebab mendasar mengapa setiap upaya diplomasi, termasuk “solusi dua negara”, selalu gagal. Sebab akar penyakitnya bukan pada batas wilayah, tapi pada hilangnya otoritas syar’i yang memimpin umat dengan hukum Allah.
Keadilan sejati hanya akan terwujud jika pemerintahan Islam menegakkan syariat sebagai dasar seluruh kebijakan, baik dalam urusan sosial, ekonomi, maupun hubungan internasional. Maka, problem seperti penjajahan Israel tidak akan selesai dengan resolusi PBB atau diplomasi Barat, melainkan dengan kekuatan politik Islam yang mampu melindungi dan membebaskan.
Dari Solidaritas Menuju Kebangkitan Ideologis
Gerakan solidaritas seperti yang dilakukan komunitas SJP Bandung dan aksi Gen Z di Maroko patut diapresiasi. Ia menandai bahwa kesadaran umat mulai bangkit. Namun, solidaritas tanpa arah ideologis hanya akan berputar dalam lingkaran yang sama.
Islam memandang pembebasan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, tetapi kewajiban syar’i. Tanah Palestina adalah bagian dari Dar al-Islam yang wajib dibebaskan dari penjajahan. Rasulullah ﷺ bersabda:
من قُتِلَ دُون مَالِهِ فهو شَهيدٌ، ومن قُتِلَ دُون أهْلِهِ، أو دُونَ دَمِهِ، أو دُون دِيْنِهِ فهو شَهيدٌ
“Barang siapa terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid; barang siapa terbunuh karena membela darahnya, maka ia syahid; dan barang siapa terbunuh karena membela agamanya, maka ia syahid.” (HR. Abu Dawud)
Karena itu, solusi Islam tidak berhenti pada advokasi diplomatik atau tekanan ekonomi. Semua itu baik, tapi bukan cukup. Islam menetapkan bahwa jihad fi sabilillah adalah satu-satunya cara untuk menghentikan penjajahan dan mengembalikan kehormatan umat.
Namun jihad dalam Islam bukan aksi sporadis tanpa kendali, melainkan jihad yang dipimpin oleh institusi politik sah sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ dan para khulafaur rasyidin.
Sudah saatnya dunia Islam melangkah dari “kepedulian emosional” menuju perjuangan sistemik mengembalikan Islam sebagai kekuatan politik global yang menegakkan keadilan sejati.
Sebab, sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam At-Takattul al-Hizbi:
“Perubahan hakiki hanya terjadi ketika pemikiran, perasaan, dan sistem kehidupan bersatu dalam satu ikatan akidah Islam. Tanpa itu, umat hanya akan terus menjadi penonton di atas panggung sejarah.”
Maka, solusi two-state yang ditawarkan Barat bukanlah jalan keluar, melainkan jebakan yang melegitimasi penjajahan. Jihad fi sabilillah dalam makna politik dan militer di bawah kepemimpinan Islam adalah solusi yang ditetapkan syariat. Hanya dengan itu tanah suci Palestina akan benar-benar merdeka.
Gelombang protes Gen Z di Maroko dan aksi solidaritas di berbagai belahan dunia adalah cahaya kecil di tengah kegelapan global. Ia menandakan bahwa fitrah manusia masih hidup, dan kesadaran umat sedang tumbuh. Namun, cahaya itu harus diarahkan agar tak padam di tengah badai propaganda sekularisme.
Islam memanggil generasi muda seperti Gen Z, aktivis, pelajar, dan intelektual Muslim untuk melangkah lebih jauh dari simpati menuju perjuangan ideologis, dari aksi ke arah perubahan sistemik. Sebab, hanya dengan tegaknya sistem Islam secara menyeluruh, keadilan sosial, kemanusiaan, dan kemerdekaan sejati akan kembali menerangi dunia. Inilah saatnya Gen Z menempuh jalan yang benar, bukan sekadar melawan ketidakadilan, tetapi menegakkan kembali tatanan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
