Padang, 9 Oktober 2025 – Transportasi memegang peranan krusial dalam pengembangan pariwisata. Di Sumatera Barat, Kereta Api (KA) Minangkabau Ekspres telah menjadi pilar strategis dalam meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan wisatawan, sekaligus mendorong peningkatan kunjungan daerah.
Menurut Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, KA Minangkabau Ekspres adalah layanan kereta bandara yang menghubungkan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Kabupaten Padang Pariaman dengan sejumlah stasiun di Kota Padang, termasuk Stasiun Padang dan Stasiun Pulau Air.
"Sebelumnya, wisatawan yang tiba melalui udara harus menggunakan taksi atau transportasi darat lainnya, yang menambah biaya dan waktu perjalanan. KA Minangkabau Ekspres memangkas waktu perjalanan dari bandara ke pusat kota menjadi sekitar 40 menit dengan tarif terjangkau," ujar Reza.
Layanan ini mengurangi hambatan perjalanan dan menjadi alternatif modern bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Akses transportasi yang cepat, nyaman, dan terintegrasi ini berkontribusi pada peningkatan mobilitas wisatawan di Sumatera Barat.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pariwisata Sumatera Barat, terjadi peningkatan signifikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) ke Sumatera Barat melalui BIM. Pada periode Januari hingga Agustus 2025, kunjungan wisman mencapai 59.043 orang. Total kunjungan wisatawan (domestik dan internasional) mencapai lebih dari 13 juta orang, menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
KAI Divre II Sumatera Barat mencatat peningkatan jumlah pengguna layanan kereta api. Sepanjang Januari-September 2025, jumlah penumpang mencapai 1,5 juta, naik sekitar 11% dibandingkan tahun 2024.
Kontribusi KA terhadap pariwisata meliputi:
1. Mengurangi Hambatan Waktu dan Biaya: Memudahkan wisatawan mencapai destinasi tanpa berganti moda transportasi.
2. Meningkatkan Kenyamanan: KA Minangkabau Ekspres meningkatkan citra Sumatera Barat sebagai daerah yang ramah akses transportasi.
3. Distribusi Wisata: Mempermudah akses ke kawasan wisata di sekitar jalur rel, seperti Masjid Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Kota Tua.
4. Stimulus Ekonomi Lokal: Mendorong peningkatan okupansi hotel, konsumsi kuliner lokal, dan aktivitas UMKM di sekitar stasiun dan destinasi.
KAI Divre II Sumatera Barat berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan, termasuk evaluasi jadwal, integrasi moda multimoda, promosi bersama, penguatan infrastruktur, dan monitoring dampak.
"Sinergi antara Dinas Pariwisata, KAI, pemerintah daerah, dan operator wisata sangat penting untuk menjadikan rel bandara sebagai pemicu utama pariwisata berkelanjutan," tutup Reza.
